Pertemuan Kuncung Putih dan Batari Ayuditya di Sendang Geulis Kahuripan
Cerita dunia spiritual, Jauh sebelum Kerajaan Sunda berdiri, Sendang Geulis Kahuripan bagian dari kisah perjalanan Kuncung Putih atau Rahyang Jaya Dharma.
Saat masih kecil Kuncung Putih dititipkan oleh ayahnya kepada kakaknya yang bernama Sahyang Braja Dharma penguasa Gunung Galunggung, untuk menimba ilmu bela diri.
Setelah menginjak remaja, Kuncung Putih mendapat titah untuk melakukan pertapaan, dia memilih sebuah batu besar yang ada di Sindang Geulis Kahuripan, pada waktu itu tempat ini belum terjamah oleh manusia, sehingga tempat ini masih asri dan sejuk serta air mengalir dengan jernihnya.
Suatu ketika dia sedang bertapa, terdengar suara berisik, suaranya terdengar dari arah kolam, karena suara itu lama kelamaan makin terdengar kencang hingga membuat kehilangan konsentrasi saat bertapa, Kuncung Putih merasa aneh karena tempat ini sangat jauh dari pemukiman, mustahi orang bisa sampai datang ketempat ini.
Baca juga :
- Mengenal sosok Kuncung Putih jin pendamping Prabu siliwangi
- Hasyim Bahadur Jin utusan Kerajaan Laut Merah
Karena merasa penasaran, dia beranjak dari pertapaanya untuk melihat apa yang sedang terjadi di kolam sana. Setelah sampai di dekat kolam, dia kaget melihat bidadari yang sedang mandi, para bidadari itu sungguh sangat cantik jelita, hingga perasaanya berdebar-debar.
Rahyang Jaya Dharma memberanikan diri untuk menghampiri bidadari tersebut, para bidadari yang asik sedang mandi, tiba-tiba kaget ada yang menghampirinya. Salah seorang dari bidadari itu memberanikan diri untuk menghampiri Kuncung Putih. Terjadilah dialog antara Kuncung Putih dan bidadari tersebut.
Singkat cerita bidadari itu bernama Batari Ayuditya anak dari Aji Dharma dan cucu dari gurunya sendiri Braja Dharma. Cinta pertama Kuncung Putih seperti gayung bersambut, Batari Ayuditya yang cantik mempesona ternyata masih kerabat dengan dia.
Kemudian Kuncung Putih mendatangi ayah dari Batari Ayuditya, menjelaskan kedatangannya yang bermaksud untuk melamar anaknya.
Aji dharma dengan senang hati menyetujui lamaran dari Kuncung Putih, hingga tiba saatnya pernikahan Kuncung Putih dan Batari Ayuditya dilaksanakan.
Pernikahan mereka di karuniai 100 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Anak perempuan bernama Ayu Dharma, nama Ayu Dharma di ambil dari gabungan nama kedua orangtuanya.
Saat waktunya tiba bagi Kuncung Putih untuk menjalankan tugasnya, Sanghyang Braja Dharma memberikan tugas kepada kuncung putih dan istrinya menjaga kerajaan Galuh agar selalu aman dan damai.
Pada saat itu, kerajaan Galuh di pimpin oleh raja Prabu Linggawangi. Raja yang sungguh arif dan bijaksana.
Kisah memilukan terjadi pada Kuncung Putih saat peristiwa perang Bubat, saat itu Rahyang Jaya Dharma tidak boleh ikut mengantar Putri Diah Pitaloka untuk melangsungkan pernikahan dengan raja Majapahit.
Di tengah perjalanan rombongan pernikahan di hadang oleh tentara Majapahit yang di pimpin oleh Patih Gajah Mada, pertempuran yang tidak seimbang membuat pasukan kerajaan Galuh terbunuh, termasuk Prabu Linggawangi.
Pada peristiwa tersebut Batari Ayuditya ikut terbunuh, dia di bunuh oleh tentara gaib Majapahit atau khodam dari Patih Gajah Mada.
Peristiwa tersebut membuat Kuncung Putih terpukul, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan kerajaan Galuh untuk bertapa dan menyendiri.